Kota yang Ramah dengan Difabel

9 Juni 2017 | 01:09

Kita tahu bahwa seringkali sarana dan prasarana di suatu kota hanya disediakan untuk kebutuhan penduduk non-difabel. Alhasil, banyak warga difabel kesulitan mengakses berbagai layanan umum. Kota yang ramah pada difabel tentu menjadi sebuah keunikan dan memiliki nilai tersendiri.
 
Ada beberapa kota di Indonesia yang telah mulai memperhatikan fasilitas umum yang mudah diakses oleh kelompok difabel, misalnya halte bus yang bisa diakses kursi roda, trotoar dengan penanda bagi tunanetra dan toilet-toilet umum dengan untuk difabel. Terlepas dari belum sempurnanya layanan tersebut, ada tempat-tempat unik yang layak dikunjungi bila Anda ingin menyaksikan bagaimana warga dan pemerintah kota-kota ini mengembangkan rasa peduli pada aksesibilitas bagi kelompok difabel.
 

Yogyakarta

 
Sebagaimana dilansir oleh brilio.net, ada beberapa tempat ibadah di sana yang ramah difabel dan menjadi percontohan tempat-tempat lainnya yaitu Mesjid Baitul Makmur, Pura Jagadnata, GKJ Wirobrajan, Sanggar Penghayat 'Sumarah', dan Vihara Budha Karangjati. Umat dari tempat-tempat beribadah tersebut yang memiliki difabilitas dilayani dengan fasilitas pejalan kaki tunanetra, ramp untuk kursi roda, tempat berwudhu yang ramah untuk mereka yang tidak memiliki kaki, dan juga pelayan ibadah yang menguasai bahasa isyarat.
 
Selain itu, Yogyakarta juga memiliki fasilitas perpustakaan umum yang dilengkapi dengan buku-buku Braille serta buku wicara digital (digital talking books). Nama layanan ini adalah BELINDA atau Blind Corner untuk Anda bagi para tunanetra. Bila Anda berkunjung ke kota ini, Anda dapat mendatangi perpustakaan kota tersebut di Jalan Suroto No. 9, Kotabaru.
 
Layanan serupa juga terdapat di Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember. Anda bisa mengunjunginya di Jalan Letjen DI Panjaitan No. 49, Sumbersari, Kabupaten Jember. Layanan ini dinamakan Blind Corner.
 

Jakarta

 
Anda bisa melihat bagaimana Jakarta berbenah dalam memberikan layanan ramah difabel, salah satunya adalah Transjakarta Cares. Ini adalah layanan jemputan bagi difabel yang dapat mempermudah mereka mengakses bus Transjakarta terdekat. Caranya tinggal kontak call centre mereka di 021-1500 102 dan sampaikan kebutuhan Anda untuk mendapatkan layanan jemputan menuju halte TransJakarta terdekat dari posisi Anda.

 

Bandung

 
Sejak 2016, Bandung memiliki sebuah taman bernama Taman Inklusi yang terletak di pertemuan antara Jalan Saparua dan Jalan Aceh Bandung (tepatnya di seberang GOR Saparua Bandung). Taman ini melengkapi dirinya dengan berbagai fasilitas aksesibilitas difabel.  Saat proses pembangunannya, taman inklusi dirancang secara partisipatif dengan melibatkan warga difabel. Mereka memberikan masukan serta keinginan mereka tentang sebuah taman yang dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan mereka yang unik dibanding warga non-difabel.
 

Kita berharap di masa-masa mendatang kota-kota dan juga desa-desa di Indonesia dapat lebih mengakomodasi kebutuhan khusus warga difabel masing-masing. Tertarik untuk memulai perjalanan sendiri maupun rombongan dengan tema “kota ramah difabel”? 

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Business

    Peluang Usaha, Bagaimana Menemukannya?

    Peluang kadang tak menghampiri, melankan harus dicari.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.