Etika dan Kepercayaan di Tempat Kerja

14 Juli 2017 | 13:35

Penerapan etika di tempat kerja terpaut erat dengan kepercayaan. Para pemimpin yang memiliki standar etika tinggi akan mendapat “imbalan” sosial berupa rasa percaya yang tinggi dari sekitarnya, khususnya dari tim yang bekerja di bawah supervisinya. Mereka bukan atasan yang hanya berbuat sesuai aturan tertulis belaka. Mereka bertindak lebih.
 
Bila Anda seorang pemimpin, selain melihat dari sisi teknis, Anda perlu bertanya hal-hal ini ke diri sendiri dalam berbagai situasi ketika anda harus membuat keputusan tindakan yang menuntut pertimbangan dari sisi etis:
 
1. Jika apa yang akan Anda putuskan/lakukan diketahui publik, misalnya melalui media sosial seperti YouTube, apakah Anda akan bangga dengan hal itu? Apakah Anda masih akan melakukannya jika semua orang tahu?
 
2. Apakah bila rekan kerja atau pihak-pihak yang berkepentingan mengetahui akibat dari keputusan Anda mereka menjadi kurang percaya pada Anda?
 
3. Jika putra/i Anda, atau orang penting lainnya, tahu apa yang akan Anda lakukan, apakah mereka akan setuju?
 
4. Jika atasan Anda atau pemimpin lainnya membuat keputusan yang sama dengan yang Anda rencanakan, apakah Anda akan baik-baik saja dengan itu?
 
5. Apakah tak masalah jika semua orang di tempat kerja melakukan apa yang akan Anda lakukan?
 
6. Jika Anda sendiri harus mematuhi keputusan atau menerima tindakan yang Anda lakukan, apakah keputusan tersebut akan tetap Anda buat?
 
Deretan pertanyaan tersebut dapat membantu menstimulasi hati nurani untuk lebih aktif terlibat dalam membuat keputusan yang mengandung bobot moral etis tersendiri. Tidak ada jawaban baku untuk setiap situasi, namun selalu berguna untuk menanyakannya pada diri sendiri sebelum Anda mengambil keputusan. Sebuah tindakan mungkin sesuai aturan perusahaan, hukum negara, dan rasional tapi bukan sebuah hal yang benar dilakukan.
 
Di sini etika berperan menjadi pembeda apakah seorang pemimpin lebih bisa dipercaya atau tidak. Kalau hanya menerapkan aturan resmi, semua orang bisa, tapi bertindak dengan pertimbangan moral yang adil, butuh kualitas dan karakter kepemimpinan tersendiri.
 
Berikut ini beberapa contoh situasi yang menunjukkan bedanya pemimpin beretika tinggi dan rendah.
 
1.     Anda seorang direktur yang tahun ini tidak bisa memberi bonus pada karyawan kecuali direksi. Demi keadilan, Anda memutuskan untuk meminta perusahaan mengatur agar bonus direksi dibagi rata saja kepada para karyawan.
 
2.     Perusahaan meminta Anda meningkatkan pencapaian target tim. Hal ini membuat anggota tim harus lembur. Anda bos-nya, boleh-boleh saja Anda tinggal perintah dan tidak ikut lembur. Tapi, Anda ikut lembur dan membantu apa saja yang Anda bisa.
 
Bagaimana bila situasi semacam itu benar-benar Anda hadapi? Terapkan pertanyaan-pertanyaan pengetuk hati nurani di atas, Anda akan tahu jawabannya!
 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Business

    Peluang Usaha, Bagaimana Menemukannya?

    Peluang kadang tak menghampiri, melankan harus dicari.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.