Buat Kontrak Itu Penting!

14 Juli 2017 | 14:09

 
Orang bijak mengatakan bahwa dalam bisnis atau relasi profesional faktor penentu utama adalah kepercayaan. Namun, jika hanya mengandalkan kepercayaan, orang kadang jadi mengabaikan pentingnya membuat perjanjian kerja atau kesepakatan bisnis menjadi tertulis.
 
Kita ambil contoh misalnya dalam konteks model bisnis start-up yang sedang marak. Biasanya sebuah start-up melibatkan dua pihak kunci, yaitu mereka yang memiliki gagasan dan kompetensi teknis terkait produk yang dihasilkan dan pihak pemodal. Namun, kepemilikan tidak hanya di tangan pemodal atau investor melainkan dibagi bersama dengan pihak pelaksana atau penggagas dengan perhitungan proporsi yang disepakati semua pihak.
 
Pertanyaan-pertanyaan berikut ini menjadi penting untuk dijawab agar perjanjian bisnis start-up berjalan lancar, sebagaimana dilansir di situs Market+. Bagaimana menjaga kelancaran setoran dari si pemodal? Apa jaminannya si pemodal tidak kemudian mencuri ide ini dan mewujudkannya dengan membentuk tim sendiri? Apakah hanya mengandalkan rasa saling percaya dan hubungan pertemanan? Yakin? Setelah proyek diluncurkan, siapa yang memegang hak kekayaan intelektual atas aplikasi? Bagaimana status dari orang yang dipekerjakan, apakah juga berhak atas kekayaan intelektual? Deretan pertanyaan tersebut perlu dijawab dan dikomposisi dalam sebuah dokumen kontrak yang mengatur kerja sama secara hukum.
 
Selain dalam konteks start-up, yang juga penting adalah penerapan legalitas dalam konteks pekerja freelance. Untuk karyawan tetap, sering kali kontrak kerja sudah cukup otomatis ada undang-undangnya. Pekerja freelance kadang tidak demikian. Ditambah lagi, para pekerja lepas ini pun sering abai atau takut membicarakan soal legalitas kepada yang memberi pekerjaan.
 
Lebih jauh, Rieke Caroline dari buatkontrak.com menjelaskan, pasal 1338 KUH Perdata menyebut “Perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi yang membuatnya”. Dengan adanya kontrak, kita ingat bahwa ada ketentuan yang telah disepakati untuk dijalankan. Sedangkan pasal 1866 KUH Perdata mengatur “Alat bukti meliputi: bukti tertulis”. Kontrak menjadi pegangan sekaligus bukti untuk menagih hak kita dan menghindari hal yang bukan kewajiban kita.
 
Dari dua pasal tersebut, makin jelas bahwa kontrak dan perjanjian-perjanjian lain yang terpisah atau tercakup dengan kontrak menjadi sangat penting. Anda perlu memiliki rujukan ahli tentang kesepakatan apa saja yang perlu dijadikan dokumen hukum. Karena, tentu saja tidak harus semua hal dijadikan kesepakatan tertulis dan tidak semua kesepakatan tertulis menjadi dokumen hukum.
 

Hal yang penting adalah Anda sadar dan memiliki pertimbangan yang tepat tentang perlunya kontrak dan kehadiran hukum untuk melindungi bisnis, profesi, dan eksistensi Anda tanpa harus kehilangan keluwesan inovasi. Bisnis yang baik, khususnya start-up adalah kombinasi yang seimbang antara legalitas dan kreativitas! 

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Business

    Peluang Usaha, Bagaimana Menemukannya?

    Peluang kadang tak menghampiri, melankan harus dicari.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.