Mengenali Emotional Eating pada Anak

14 Juli 2017 | 14:43

 
Kelebihan berat badan bisa menimpa anak yang terjebak emotional eating. Mereka makan terlalu banyak dan makanan yang dikonsumsi adalah yang tinggi kalori misalnya yang manis dan berupa makanan siap saji. Penyebabnya adalah gejolak emosi yang dirasa sulit dikendalikan. Dengan makan, anak yang alami emotional eating menjadi lebih tenang.
 
Kelihatannya ini strategi yang bagus, tapi sebenarnya tidak. Ketenangan yang dialami tak berasal dari kemampuan mengendalikan emosi yang baik. Begitu ada pemicu, emosi mereka akan muncul lagi dan dorongan untuk makan sebagai “obatnya” muncul membesar. Ini jadi seperti sebuah lingkaran setan.
 
Bedanya dengan Makan yang Didorong Rasa Lapar Normal
Kelaparan yang berhubungan dengan emotional eating biasanya datang dengan cepat dan terasa bagai mendesak anak untuk segera menuntaskannya. Hal ini sering dipicu oleh kejadian atau suasana hati tertentu. Ini tidak seperti rasa lapar normal, yang secara bertahap terbentuk dan merupakan hasil dari perut kosong. Rasa lapar yang berhubungan dengan emotional eating biasanya melibatkan makanan atau jenis makanan tertentu misalnya coklat, permen, eskrim dan kue-kue manis.
 
Emosi yang Memicu Emotional Eating
Ada sejumlah emosi yang memicu emotional eating yaitu: marah, bosan, perubahan situasi, bingung, kesedihan mendalam, frustrasi, kesepian, benci dan rasa tertekan. Amati anak Anda saat mulai melakukan emotional eating. Kenali emosi apa yang mendahuluinya.
 
Tanda-Tanda Utama dari Emotional Eating
Berikut ini tanda-tanda utama yang dapat diamati dari Emotional Eating:
1.     Makan sebagai respons terhadap emosi atau situasi, bukan untuk memuaskan rasa lapar.
2.     Sering merasa perlu makan secepatnya.
3.     Menginginkan makanan atau jenis makanan tertentu.
4.     Mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak dari biasa dan makan pada waktu yang tidak biasa juga (misalnya, larut malam).
5.     Merasa malu atau bersalah karena makan.
6.     "Menyembunyikan" makanan pada saat stres tinggi atau kedapatan menyembunyikan wadah kosong.
 
Mengatasi Emotional Eating pada Anak
Untuk mengatasinya orang tua perlu menjadi suri teladan dan melakukan beberapa hal berikut ini:
1.     Mengenali emotional eatingnya sendiri dan menghentikannya.
2.     Hindari menggunakan makanan sebagai imbalan dari perbuatan baik atau pintar yang dilakukan anak. Ini membiasakan anak mengasosiasikan makanan sebagai imbalan psikologis, bukan hanya untuk mengenyangkan perut.
3.     Bila Anda telah melihat emosi apa yang mendahului emotional eating, coba bicara dengan anak untuk menemukan solusi alternatif selain makan.
4.     Hindari berbicara menghakimi anak terkait emotional eating atau dampaknya: bertambah berat badan.

5.     Ajak anak olahraga.  

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Business

    Peluang Usaha, Bagaimana Menemukannya?

    Peluang kadang tak menghampiri, melankan harus dicari.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.