Menghadapi Orang yang Kerap “Menguji Kesabaran”

21 Juli 2017 | 07:40

Bukan salah kita, tapi terkadang kita berurusan dengan orang yang ‘sulit’ secara konsisten. Kalau hanya bertemu sesekali mungkin tidak masalah. Ada saatnya kita harus sering berinteraksi dengan orang ini. Bisa karena kita satu tim di kantor atau teman sekelas di kampus.

Jika Anda orang yang suka menyenangkan orang lain, orang yang sering menguji kesabaran ini mungkin akan mendekat kepada Anda. Mereka jarang tertarik bergaul dengan sesamanya. Orang yang memprioritaskan kepuasan orang lain dapat dengan mudah dimanipulasi olehnya. Tapi bahayanya, ia yang tak pernah puas ini bisa memukul harga diri Anda yang selalu ingin orang lain bahagia karena Anda. Ia akan menemukan banyak alasan untuk membuat Anda berkecil hati. Percayalah!

Jadi apa yang harus kita lakukan saat berhadapan dengan orang jenis ini dalam hidup kita? Mungkin itu adalah anggota keluarga, teman, atau rekan kerja yang tidak bisa Anda hilangkan dari kehidupan Anda. Bila Anda yakin telah mencoba yang terbaik untuk bergaul dengan orang yang sulit dihadapi ini, berpikir bahwa orang tersebut mungkin berada dalam kehidupan Anda selamanya bagaikan mimpi buruk.

Anda mungkin bahkan meyakinkan diri Anda untuk terus mencoba untuk menyenangkan orang itu, menutup mulut Anda, dan mencoba mengalir saja dalam berinteraksi dengan mereka—sampai mereka tiba-tiba sudah memojokkan Anda. Itu mungkin akan terjadi pada orang yang paling baik sekalipun. Mereka tidak pilih-pilih “korban”. Mereka menikmati konflik.

Dalam buku How to Deal with Difficult People, penulis Gill Hasson menawarkan beberapa pendekatan yang membantu mengenai masalah ini. Poin utamanya adalah bahwa Anda tidak dapat mengubah perilaku orang lain, namun Anda dapat mengubah cara Anda meresponsnya. Berikut cara yang ia sarankan ketika Anda berencana untuk mengkonfrontasikan diri dengan orang yang membuat kesal ini.

1. Bersikap tegas-identifikasi dan jelaskan masalahnya.
2. Katakan secara jujur bagaimana perasaan Anda.
3. Akui kontribusi Anda dalam situasi ini, mungkin Anda juga membuat kesalahan.
4. Katakan apa yang akan dan tidak akan Anda lakukan, meskipun mereka memintanya.
5. Ambil sikap tegas!
6. Negosiasikan dan kompromi bila memungkinkan.
7. Identifikasi solusi dan konsekuensinya.
8. Tetap tenang dan latih apa yang akan Anda katakan dan lakukan.

Anda juga perlu memahami mengapa Anda kesal dengan apa yang ia lakukan terhadap Anda. Hal yang membuat kita kesal terkadang ada hubungannya dengan sifat atau masa lalu kita sendiri yang tidak kita sukai. Mereka mungkin berlaku sebagaimana Anda dulu di suatu masa, dan Anda tidak ingin mengingatnya. Jadi, rasa sebal Anda pun ada alasannya, selain bahwa ia benar-benar mengganggu kepentingan Anda. Ini perlu Anda akui juga agar bisa tetap tenang menghadapi dirinya.

Terakhir, berhenti menyenangkan orang yang tidak pantas selalu disenangkan. Putus lingkaran setan tersebut dari Anda terlebih dahulu!
 

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.

  • Hobby

    The Power of Giving

    Tak sedikit penelitian menyebutkan, rasa bahagia saat memberi kepada orang lain, akan membuat diri kita lebih nyaman menjalani hidup. Siapapun diri kita, apapun kondisi kita saat ini, kita selalu bisa memberi.