Menjadi Orangtua Reflektif

21 Juli 2017 | 07:53

Pengasuhan reflektif melibatkan pengambilan perspektif dua arah dalam mengasuh, di mana Anda melakukan pengasuhan dengan mencoba selalu memahami dari perspektif anak Anda dan juga pribadi Anda sendiri.

Menurut Regina Pally, pengarang buku The Reflective Parent: How to Do Less and Relate More with Your Kids, anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh reflektif cenderung lebih matang berkembang dari sisi emosi, sosial dan kognitif. Ini karena mereka terlatih untuk mengendalikan dorongan dan keinginan melalui pemahaman diri yang diajarkan oleh orang tua reflektif.

Sementara itu, pola asuh reaktif berarti Anda semata-mata bereaksi saat Anda "lelah" dengan perilaku anak Anda. Orang tua reaktif berteriak, menjerit dan bahkan memukul sembarangan saat mereka merasa anak mereka nakal. Alih-alih menikmati kehadiran anak-anaknya, orangtua yang reaktif sangat peka dan menanggapi emosional sebagian besar perilaku anak mereka. Mereka selalu merasa terganggu.

Bagaimana cara menjadi orang tua dengan pola pengasuhan reflektif? Ini tipsnya:

1. Kenali diri Anda dan bagaimana Anda mengasuh anak Anda selama ini. Ini mendorong Anda untuk memetakan pola asuh Anda dan apa yang mempengaruhinya, seperti suasana emosi Anda, pengalaman masa lalu Anda dan hal-hal yang lebih luas, seperti hal-hal tentang pengasuhan yang Anda yakini benar dan hubungan dengan pasangan.


2. Renungkan seberapa kuat perasaan Anda bergejolak saat menghadapi perilaku anak yang kurang anda harapkan. Biasakan melakukan ini sebagai tolok ukur kapan tindakan terbaik sudah perlu dilakukan, dan kapan sebaiknya menunggu sampai emosi anda lebih tenang.

3. Latih diri Anda untuk berempati pada anak. Buatlah dugaan tentang apa yang mungkin mengganggu mereka dan membuat mereka senang. Bila anak sudah bisa diajak berbicara, tunjukkan minat Anda untuk mendengar dari mereka tentang apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Ini harus menjadi kebiasaan yang selalu diterapkan, bukan hanya ketika anak bermasalah.

4. Bantu anak mengenali emosi mereka dan pemicunya dengan memberi nama. Ini akan membuat anak Anda terbiasa melakukan refleksi terhadap pengalamannya sendiri.

5. Ketika anak berperilaku tidak patut, prioritaskan melihatnya dari dua sisi: bagaimana merespons perilaku tidak patutnya dan apa yang ada di pikiran mereka ketika melakukannya. Bangun dialog dengan anak dan izinkan dia menceritakan alasan dia berperilaku demikian.

6. Beberapa anak memiliki sensitivitas emosional yang lebih tinggi dari anak lain. Anda perlu memahami ini dan menghargai apa yang mereka rasakan sekalipun Anda merasa itu berlebihan. Ingat bahwa di “dunia” perasaan, tidak ada yang berlebihan. Tiap anak merasakan apa yang memang mereka rasakan, dengan cara yang alami sesuai bawaan mereka. Dan beberapa anak memang lebih perasa.

7. Ajak anak belajar merefleksikan apa yang anggota keluarga lain rasakan dan pikirkan. Misalnya apa yang adiknya pikirkan ketika dia merebut mainan si adik. Ini membantu anak belajar berempati ke orang lain.

Di saat situasi sedang tenang atau menyenangkan, jangan sia-siakan. Lakukan saran-saran di atas terutama di saat justru sedang tidak ada masalah dan Anda bersama anak bisa melakukan refleksi bersama dengan suasana nyaman. Anda dalam keadaan stabil secara emosi dan anak pun demikian. Anda berdua bisa belajar lebih banyak tentang emosi sendiri dan satu sama lain!  

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.

  • Hobby

    The Power of Giving

    Tak sedikit penelitian menyebutkan, rasa bahagia saat memberi kepada orang lain, akan membuat diri kita lebih nyaman menjalani hidup. Siapapun diri kita, apapun kondisi kita saat ini, kita selalu bisa memberi.