Keheningan Digital, Mau Coba?

21 Juli 2017 | 09:08

Dahulu, semuanya lebih sederhana: bila Anda ingin melihat atau berbicara dengan seseorang, Anda kunjungi secara langsung atau mengirim surat. Surat bisa memakan waktu lama hanya untuk perjalanan agar sampai di tangan orang yang dituju. Di masa kini, mengirim pesan ke belahan dunia lain hanya butuh hitungan 1-2 detik. Di saat yang sama, kemudahan ini membuat harapan kita terkait kecepatan respons lawan bicara menjadi membumbung tinggi. Orang zaman dahulu bisa menunggu balasan surat selama berhari-hari, manusia zaman sekarang, bahkan sulit menunggu beberapa jam saja.

Ini menjadi lebih rumit dalam relasi antara dua orang yang berpasangan. Riset membuktikan bahwa waktu tunggu yang dapat kita toleransi saat menanti balasan pesan dari pasangan berkisar hanya sekitar lima menit. Lebih dari itu, kita mulai bertanya-tanya ada apa dengan pasangan, atau mungkin apa yang salah dengan kita. Kita juga rentan merasa tidak diprioritaskan dalam kondisi tersebut. Kecuali bila sebelumnya kita sudah tahu bahwa dia menghadapi urusan yang tidak bisa ditunda misal rapat atau berada dalam pesawat.

Padahal, boleh jadi ada beragam alasan mengapa pasangan tidak kunjung membalas pesan kita. Sebelum dia sempat menjelaskan, kita sudah berpikir macam-macam. Kemudian, saat si dia akhirnya mengirim pesan balasan, pesan tersebut sampai di kita yang sudah terlanjur terjangkit emosi dan prasangka. Tentu ini akan mempengaruhi pemahaman dan penerimaan kita terhadap pesan tersebut.

Bagaimana cara menjembatani ketidaksinkronan ini? Yana Hoffman, seorang psikoterapis menyarankan disepakatinya aturan-aturan baru dalam berkomunikasi via media digital. Kesepakatan tersebut harus disetujui kedua belah pihak secara eksplisit. Harapannya, ini dapat mencegah munculnya prasangka-prasangka yang tidak perlu. Berikut ini dua saran penting dari beliau:

1. Diskusikan secara terbuka tentang harapan-harapan masing-masing pihak terkait berkomunikasi via teks digital. Ini menyangkut berapa lama bisa menunggu, maupun apakah terkadang tidak mudah bagi salah satu atau kedua pihak untuk segera merespons. Mungkin Anda juga bisa menyepakati “keharusan” membalas dengan pesan sela yang mengabarkan bahwa Anda akan merespons pokok pesan beberapa saat atau jam lagi.

2. Anda berdua barangkali juga perlu untuk mengabarkan di pesan yang dikirim terkait harapan untuk mendapat respons dalam waktu tertentu. Anda bisa menulis di akhir pesan, misalnya, “tolong kabari aku sekitar sejam kedepan” atau “balas setelah kamu santai, ya?” dan sejenisnya.

Jadi, dengan demikian, tak perlu curiga tanpa alasan kan?

 

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Business

    Peluang Usaha, Bagaimana Menemukannya?

    Peluang kadang tak menghampiri, melankan harus dicari.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.