Surabaya 1945: Sakral Tanahku

21 Juli 2017 | 09:28

Judul Buku: Surabaya 1945: Sakral Tanahku
Penulis: Frank Palmos, sejarawan Australia
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Buku ini mengukap sejarah lengkap tentang berdirinya RI di tahun 1945 melalui kesaksian para pelaku sejarah. Frank Palmos, penulisnya, mengumpulkan banyak catatan, memoar, dan wawancara saksi peristiwa itu, di antaranya Hario Kecik, Ruslan Abdulgani, Rosihan Anwar, dan puluhan pejuang lainnya.

Selama Agustus sampai Desember 1945, ragam peristiwa kekerasan terjadi yang melibatkan pejuang Surabaya dan pasukan Jepang serta sekutu. Mereka mencapai 3 hal: menaklukkan pasukan Jepang dan melucuti senjatanya, menggagalkan Belanda yang hendak mengambil kembali Indonesia sebagai tanah bekas jajahannya, dan menantang tentara gabungan Inggris- India yang datang untuk memulangkan tawanan Jepang yang kalah perang serta membantu Belanda kembali menguasai Indonesia.

Pembabakan mengenai pertempuran Surabaya dalam buku ini diawali dari demam kemerdekaan yang menjangkiti warga Surabaya dan munculnya rasa ingin balas dendam terhadap pasukan Jepang. Kemudian juga, aksi perampasan senjata Jepang dan pembubaran Kempetai. Selama 99 hari (22 Agustus–30 November) mempertahankan Surabaya, ribuan orang secara sukarela ambil bagian di medan laga. Mereka berasal dari berbagai kalangan, seperti tentara Peta, buruh, pedagang, atau kuli pelabuhan.

Para pelajar menggabungkan diri dalam unit satuan tempur pelajar (Trip). Meskipun berusia muda, mereka sangat berani. Bahkan, pejuang Trip beberapa kali terlihat masih menggunakan seragam sekolah ketika bertempur (hal 192). Yang tidak banyak diketahui, ternyata masyarakat Tionghoa juga ikut dalam pertempuran Surabaya. Mereka terbelah dua. Ada yang pro dan kontra terhadap kemerdekaan Indonesia. Kelompok pemuda Tionghoa pendukung perjuangan ini berasal dari daerah Kapasan dan ketuanya bernama Hadi Manuk.

Tugas mereka “membersihkan” orang-orang Tionghoa yang kontra terhadap kemerdekaan. Sekumpulan pemuda ini membawa para “tersangka” ke markas BKR maupun markas pemuda lainnya untuk diinterogasi (hal 287). Ada pula seorang Tionghoa belia bernama Cholik. Ia tinggal dan sering bergaul di lingkungan kelompok pergerakan. Cholik sering mencuri benda milik serdadu Jepang. Hampir semua barang yang dibutuhkan selalu didapatkan seperti ban mobil Jip Jepang dan mesin-mesin beserta onderdilnya (hal 289). Atas jasanya itu, kelak Cholik diangkat menjadi Kepala Pelabuhan Tanjung Priok oleh Presiden Soekarno.

Penelitian sejarah dengan tema pertempuran Surabaya telah banyak dikerjakan. Buku-buku dengan tema serupa juga banyak diterbitkan. Namun, Frank Palmos mampu menunjukkan betapa pentingnya mengangkat “sumber dari dalam” yang dapat memberi ruang sejarah bagi mereka yang tidak memperoleh tempat dalam narasi besar sejarah Indonesia. 

 

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.

  • Hobby

    The Power of Giving

    Tak sedikit penelitian menyebutkan, rasa bahagia saat memberi kepada orang lain, akan membuat diri kita lebih nyaman menjalani hidup. Siapapun diri kita, apapun kondisi kita saat ini, kita selalu bisa memberi.