Contoh Pendidikan Karakter untuk Generasi Muda Indonesia

1 Mei 2018 | 19:40

Pendidikan karakter tak boleh hanya dilimpahkan pada sekolah. Sebagai orang tua dan keluarga, Anda harus mengajarkan beragam karakter baik di rumah. Bisa dilakukan sehari-hari dan mampu berdampak baik pada kehidupannya ke depan. Seperti apa?

Tidak Membuang Sampah Sembarangan

Membuang sampah sembarangan adalah salah satu hal kecil yang bisa berpengaruh besar pada karakter seseorang. Apalagi ketika ia sudah dipupuk dari kecil untuk membuang sampah sembarangan. Rasa acuh tak acuh serta ego yang tinggi bisa muncul dari seseorang yang kerap membuang sampah sembarangan. Karena membuang sampah sembarangan berarti tidak bertanggung jawab. Apalagi ketika ada tempat sampah di sekitarnya.

Ajarkan si kecil untuk membuang sampah pada tempatnya sejak dini. Anda pun harus menjadi contoh yang baik untuk hal ini. Bila perlu, ajarkan juga kepadanya untuk mau mengambil sampah yang berserakan di jalan dan membuangnya ke tempat yang benar. Bila terasa kotor, Anda bisa menyiapkan kantong kertas dan capit mengambil sampah tersebut. Salah seorang Putri Indonesia juga kerap melakukan ini saat ia kecil dulu, dan hal ini membangung karakternya hingga kini ia bisa meraih gelar tersebut.

Tidak Menggunakan Jenis Kelamin Sebagai Bahan Perbandingan

Indonesia termasuk negara yang krisis kesetaraan, termasuk urusan jenis kelamin. Banyak perilaku tertentu yang menjadi cap untuk jenis kelamin tertentu. Misalnya, anak tersebut kerap menangis, dan ia seorang laki-laki. Umumnya, orang akan mengatakan "Jangan menangis terus seperti perempuan, itu memalukan." Padahal, menangis adalah sebuah emosi yang boleh ditunjukkan oleh siapa saja. Tidak hanya perempuan.

Ketika si kecil sudah diajarkan untuk mengotak-kotakkan emosi manusia ini, ke depannya ia akan lebih mudah untuk menilai orang.  Ketika ia mudah menilai orang, kehidupannya akan lebih susah karena ia tak akan pernah merasa puas dengan keadaan di sekitarnya. Hal ini juga bisa berpengaruh pada pertemanannya dengan banyak orang lain.

Tidak Mudah Melukai Binatang

Kemudahan seseorang untuk melukai binatang, sekecil apapun itu bisa berujung pada perasaan superioritas yang bisa terbawa ke kehidupan sosial. Ketika ia sudah merasa superior tanpa pernah merasa bahwa besar atau kecil, semua orang tidak berhak untuk dilukai, bisa jadi ia tumbuh menjadi seseorang yang mudah untuk mem-bully orang lain. Apalagi ketika orang tersebut lebih kecil dan lebih lemah darinya.

Anda tentu tak mau si kecil untuk menjadi seseorang yang kerap melukai orang lain baik itu verbal ataupun fisik, bukan? Karena itu sebaiknya, daripada mengajarkannya untuk melukai binatang kecil yang mengganggu ada baiknya Anda memberi pengertian mengapa sebaiknya hal tersebut tak dilakukan.

Hal-hal kecil seperti ini bisa membuat si kecil tumbuh jadi pribadi yang tidak mudah menilai orang lain dan tidak mudah melukai sesamanya. Ia pun bisa lebih peka terhadap keadaan sekitar karena hal-hal "remeh" seperti di atas. Sebagai orang tua, Anda pun harus memberi contoh yang baik pada mereka. 

 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Business

    Peluang Usaha, Bagaimana Menemukannya?

    Peluang kadang tak menghampiri, melankan harus dicari.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.