Apa Benar Menikah Itu Membuat Anda Minim Depresi?

2 Juli 2017 | 18:22

Telah menjadi rahasia umum bahwa banyak orang menikah dan berharap hubungan yang membawa pada kebahagiaan kedua belah pihak. Hal ini salah satunya tercermin juga di dongeng-dongeng yang hidup bahagia selamanya setelah melewati suatu fase kehidupan yang pelik dan akhirnya mereka menikah. Ini bisa diamati pada cerita-cerita semacam Cinderella, Bawang Merah dan Bawang Putih, Ande Ande Lumut, Putih Salju, dan lain sebagainya.
 

Bisa Jadi Lebih Berbahagia

 
Apa yang termaktub dalam dongeng-dongeng tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya isapan jempol. Ada sejumlah studi yang mengkonfirmasi bahwa pasangan yang menikah berpotensi untuk memiliki kesehatan mental yang lebih baik dari mereka yang melakukan kohabitasi, yang bercerai dan yang hanya membangun hubungan pacaran. Pasangan menikah lebih sedikit mengalami stress, lebih terhindar dari depresi, lebih kuat menghadapi godaan bunuh diri, dan secara umum lebih berbahagia daripada yang tidak menikah.
 
Terkait dengan depresi, sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Adrianne Frech dan Kristi Williams, dari Ohio University, menunjukkan bahwa manfaat psikologis pernikahan dalam mencegah atau mengurangi depresi. Bahkan bisa dirasakan oleh mereka yang sebelum menikah telah menunjukkan gejala depresi atau sudah terdiagnosis depresi. Frech dan Kristi juga membuktikan bahwa, semakin baik kualitas hubungan antara suami dan istri dalam sebuah pernikahan, semakin bermanfaat pernikahan tersebut untuk mengurangi atau mencegah depresi.
 

Atau Lebih Rentan Depresi

 
Bagaimana pun, kita juga menemukan di kehidupan nyata fakta yang sebaliknya. Banyak pasangan menikah yang tidak bahagia dan sering berkonflik satu sama lain. Keadaan tersebut ketika berlarut-larut ternyata dapat menjadi pemicu terjadinya depresi pada salah satu atau kedua orang dalam pernikahan. Mengapa hal ini bisa terjadi meski studi menyimpulkan bahwa secara keseluruhan mereka yang menikah (dan bahkan anak-anak mereka) lebih sedikit mengalami kerentanan terhadap depresi dibanding yang lain?
 
Studi lebih lanjut memberikan petunjuk tentang kaitan antara depresi dan pernikahan. Ada saatnya pasangan menikah mengalami stress akibat interaksi mereka bermasalah. Bila hal ini sering terjadi, dan permasalahannya tidak diatasi dengan baik, maka akan mengalami penumpukan dampak stress yang merupakan “bahan baku” depresi. Pada situasi ini, pernikahan tidak menjadi sumber kekuatan tapi justru menjadi sumber tekanan yang dalam jangka panjang dapat berpotensi menyulut berbagai gangguan mental.
 
Dengan mulai munculnya gejala depresif pada diri seseorang, ia akan lebih sulit menikmati pengalaman positif. Bila ini terjadi pada sebuah pernikahan, maka ia akan lebih sulit dibahagiakan oleh pasangannya. Perlakuan pasangan yang biasanya menyenangkan dapat berubah menjadi terasa datar oleh pihak yang mulai mengalami depresi. Ini menimbulkan sebuah lingkaran setan ketika depresi menimbulkan rasa bebal atas pengalaman positif di dalam pernikahan dan di sisi lain kebebalan itu memancing misalnya tidak merasa dihargai, pasangan yang merasa tidak dicintai dan lain sebagainya. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan kesalahpahaman di diri pasangan, yang membuat jarak makin “melebar”. Kondisi ini malah dapat memperburuk depresi yang dialami. Beberapa pernikahan yang seperti ini berakhir dengan perceraian atau perselingkuhan.
 

Mengurangi Risiko Depresi

 
Lalu bagaimana menyikapinya? Pertama-tama perlu disadari bahwa pasangan yang banyak mengalami pertengkaran dan perdebatan tak berkesudahan memiliki risiko depresi sebesar 10-25 kali lebih besar dari pasangan pada umumnya. Susan Heitler Ph.D. memberikan saran untuk mengurangi risiko depresi pada pasangan menikah:
 
  • Terbuka pada pasangan; ini membuat pasangan menikah membangun kepercayaan satu sama lain yang lebih kuat.
  • Tahan reaksi; saat beradu argumen dan perdebatan memanas, tahan reaksi anda sampai anda merasa tenang. Jangan membalas ucapan pasangan yang marah dengan kemarahan yang sama.
  • Sediakan waktu untuk bermain bersama; pasangan menikah dan anak-anak mereka perlu terlibat dalam kegiatan yang bersifat permainan dan bersenang-senang.
  • Fokus pada “hari ini”; dalam perdebatan atau pertengkaran, upayakan selalu untuk fokus pada apa yang menjadi topiknya dan tidak membawa-bawa persoalan lama yang terjadi di masa lalu dan sudah tidak berpengaruh lagi pada kondisi saat ini.
  • Siap mengaku salah; siapkan diri Anda jauh-jauh hari bahwa Anda mungkin saja ada di pihak yang salah sehingga akan lebih mudah untuk menerima jika memang benar demikian.
 

Rekomendasi

  • Travelling

    Mahakarya Berbalut Religi

    Sosok bangunan-bangunan klasik ini tak setenar Menara Eiffel, juga tak seharum Taj Mahal. Namun pesonanya tak lekang oleh waktu.

  • Business

    Peluang Usaha, Bagaimana Menemukannya?

    Peluang kadang tak menghampiri, melankan harus dicari.

  • Hobby

    Pimpin Tim Sebaik Mungkin

    Pemimpin yang dihargai anak buahnya akan lebih mudah mengarahkan tim menuju target dan tujuannya. Bagaimana caranya?

  • Hobby

    Melompat Dari Putaran Roda Hamster

    Mereka terus berlari hingga kehabisan napas. Namun setelah napas mereka habis, mereka tetap berada di dalam roda tersebut dan menyadari bahwa mereka tetap berada di tempat yang sama. Apakah itu kita?

  • Parenting

    Waspadai Cinta Posesif

    Adakah cinta yang berlebih sehingga menyakiti? Well,, jangan percaya. Cinta, semestinya tak boleh menyakitkan. Meski itu ada.

  • Hobby

    Cara Biasa Untuk Jadi Lebih Kreatif

    Tokoh-tokoh legendaris dunia seperti Albert Einstein, Picasso, atau Steve Job tidak akan menciptakan ide berlian hanya dengan duduk manis. Mereka melakukan kegiatan sehari-hari yang mampu mengasah ide-ide mereka.